Sebaris Cerita Dalam Penulisan Karya Tulis

Ditulis di Semarang 6 Februari 2023.

 

Menulis artikel ilmiah merupakan wujud apresiasi terhadap ilmu pengetahuan. Wujud apresiasi tersebut merupakan jalan alami berkembangnya ilmu pengetahuan. ilmu pengetahuan berkembang dan menjadi poros utama sebuah peradaban. Didalam prosesnya, di negara kita telah banyak berdiri kampus-kampus yang melahirkan banyak akademisi. Hal tersebut perlu kita syukuri dan tak kalah penting kita ketahui. Lalu apa yang sebenarnya perlu kita ketahui?

Kecenderungan akademikus yang sering menjadi noktah hitam dalam lembar putih adalah hal yang perlu kita ketahui saat ini. Mengenai keputusan Dirjen Dikti Kemdigbud RI No. 152/E/T/2012 tentang kewajiban mahasiswa (S1, S2 dan S3) untuk menulis artikel imiah sebagai syarat lulus menempuh pendidikanya sudah sering kita dengar. Terutama mahasiswa yang baru mengenal tentang artikel ilmiah yang tergopoh-gopoh karena kewajiban tersebut. Alhasil stigma tentang karya tulis ilmiah semakin muncul. Stigma tersebut antara lain dari mulai sulitnya memahami artikel ilmiah sampai artikel ilmiah hanya sebatas syarat untuk lulus. Tanpa kita sadari perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia menjadi terhalang oleh stigma yang makin merealita tersebut.

Dunia akademik menjadi semakin terpisah dengan realita Ketika dihadapkan dengan kebermanfaatanya di masyarakat luas. Dalam hal ini adalah tersebarnya karya tulis artikel ilmiah sebagai bentuk publikasi kepada masyarakat yang hanya dapat dipahami oleh kalangan tertentu. Bahkan hemat saya publikasi karya tulis ilmiah masih terlihat seperti bonsai dari karya tulis utama. Saya pun turut skeptis  ketika saya sekadar ingin menambah wawasan dengan membaca karya tulis ilmiah. Penyebabnya, saya mencurigai adanya maksud tertentu dibalik penulisan teknis yang begitu njlimet dan tidak mudah dimengerti.

Diekosistem saya sering dijumpai keadaan dilematis saat kemampuan berpikir harus dipercepat sementara kapasitasnya terbatas. Waktu dan kemampuan yang terbatas menjadi faktor utama dalam menghadapi sesuatu yang serba deadline. Sebagai mahasiswa saya dituntut untuk berpikir lebih deras dengan taruhan terlewatnya berbagai peluang. Saya masih penasaran dengan hal tersebut, apakah memang demikian keadaanya atau hanya saya?. Diluar itu semua dampak yang paling saya rasakan adalah hasil pengerjaan tugas-tugas saya yang apa adanya.

Saya sependapat terhadap metafora yang telah diungkapkan oleh Wahyu Wibowo (2015) melalu fenomena yang telah terjadi pada tahun 1980-an di Prancis yang telah dikritisi oleh Bourdieu. Bourdieu merupakan sosiolog kontenporer yang mengkritisi para insan kampus di Prancis yang dianggap telah nyleweng dari tugas utamanya. Keadaan represi yang menjadi-jadi oleh pemerintah Prancis menjadikan orientasi kaum intelektual di Prancis bergeser. Dampaknya kaum intelektual Prancis cenderung menjadi “mata duitan” dan bekerja hanya atas nama uang. Dengan kata lain kenaikan jabatan juga dilandasi atas dasar keinginan untuk meraup keuntungan yang lebih dan memilih untuk pragmatis.

Menulis artikel ilmiah adalah hal yang sangat dilegalkan bahkan saat ini diwajibkan. Sebuah karya tulis ilmiah akan menunjukan legitimasi dari seorang sarjana. Karya tulis ilmiah merupakan bentuk kreatifitas dalam berintelek. Jadi bisa dikatakan bahwa setelah karya tulis dinyatakan lolos berbagai uji di lingkungan kampus maka akan menjadi bahan bacaan bagi insan kampus lain atau bahkan menjadi bacaan masyarakat. Namun semua itu tidak akan terjadi apabila sebuah karya tulis hanya sebatas bonsai dari karya tulis utama. Seperti kita ketahui saat ini informasi begitu mudah untuk diperoleh dan begitu mudah pula untuk sekadar mengambil “ide”. Oleh karena itu banyak sekali bermunculan karya tulis ilmiah yang terkesan dipaksakan.

Saya secara pribadi pernah mengalami penggiringan didalam menyusun karya tulis ilmiah skripsi. Penggiringan tersebut memaksa saya untuk mengambil jenis penelitian kuantitatif. Anggapan bahwa penelitian kuantitatif itu lebih presisi dalam melakukan proses ilmiah tentunya saya terima diawal. Penelitian kuantitatif secara waktu lebih cepat dan hemat biaya. Namun setelah mengetahui kenyataan bahwa penelitian kuantitatif maupun kualitatif memiliki kedudukan yang sama saya merasa itu hanya penggiringan opini. Berbagai represi disampaikan melalui kelebihan dan kekurangan yang menggiring saya pada keputusan kuantitatiflah yang lebih baik. Padahal baik penelitian kuantitatif maupun kualitatif keduanya dipilih atas dasar kebutuhan peneliti.

Seorang peneliti menurut pandangan saya adalah mereka yang telah memiliki bekal pengetahuan yang cukup sehingga mampu menjalankan metode ilmiah. Diluar konteks peneliti akan ada hal yang lebih umum lagi yaitu bagaimana hasil temuan itu menjadi bermanfaat dimasyarakat. Dengan tanpa kita sadari bahwa karya tulis ilmiah seringkali hanya berupa tulisan teknis yang hanya dipahami oleh kalangan tertentu. Menurut saya tidakalah bijak jika hanya mementingkan salah satu subjek pembaca karya tulis.

Tanpa menutup mata saya telah mengalami banyak proses dalam menyusun karya tulis ilmiah skripsi. Dalam menyusun skripsi saya menyadari ada banyak kekurangan terutama berkaitan dengan tata tulis dan keterkaitan antar paragraf yang terlihat kaku. Begitu juga waktu pengerjaan yang terhitung lama yaitu kurang lebih 7 bulan dan masih banyak kekurangan lainnya.

Skripsi saya yang berjudul Tanggapan Guru Terhadap Pembelajaran PJOK Berbasis Higher Order Thinking Skills di SMA Se- Kota Yogyakarta merupakan penelitian kuantitatif. Secara sederhana skripsi saya tulis dengan maksud mencoba mengetahui sejauh mana pembelajaran penjas berbasis HOTS di terapkan di SMA khususnya di matapelajaran PJOK. Alasan lain adalah karena rasa penasaran saya terhadap penerapan HOTS di mata pelajaran PJOK yang identik dengan aspek gerak. Hasil dari analisis yang telah saya simpulkan dalam perhitungan statistik yaitu Guru PJOK di SMA Se- Kota Yogyakarta memiliki tanggapan dengan kategori sedang.

Terhitung sejak tanggal 31 Agustus 2020 hingga saat ini saya menginjakan diri di kampus UNNES dan menjadi mahasiswa PPG, skripsi hampir saya tinggalkan dan hanya menjadi berkas digital yang sering kali saya kebingungan untuk mencari kembali. Skripsi tersebut saya kulik kembali dengan maksud mencoba menghidup-hidupi karya, saya mencoba telisik Kembali sejauh apa saya telah mengetahui jawaban atas pertanyaan mendasar yang telah saya tulis dalam skripsi.

Pertama-tama kita mulai dari pengertian HOTS secara singkat. HOTS merupakan kepanjangan kata dari Higher Other Thinking Skills. HOTS sendiri muncul belakangan ini dan menjadi kebutuhan dalam melandasi proses berpikir siswa. HOTS merupakan adaptasi dari munculnya globalisasi sebagai kemudahan akses dalam mencari informasi. Ditengah derasnya informasi yang beredar para siswa dituntut untuk jeli dalam memilah informasi yang valid. Sikap jeli itu disebut pula sebagai pemikiran kritis. Dalam setiap penyampaianya seluruh pembelajaran yang menggunakan kurikulum 13 diwajibkan menggunakan pembelajaran yang berbasis HOTS. Hal tersebut sudah ditegaskan sejalan dengan berlakunya kurikulum 13.

kedua adalah tanggapan guru PJOK yang merupakan variabel dalam penelitian skripsi saya. Variabel “tanggapan” saya pilih karena memang sudah banyak sekali alat ukur yang bisa mengukur variabel tersebut. Pemilihan variabel pada mulanya dilandasi atas kemudahan menyusun instrument penelitian. Saya sadari hal tersebut merupakan proses penyusunan instrument yang terbalik. Penyusunan instrument disusun menyesuaikan dengan penjabaran dari variabel. Namun lagi-lagi dengan dalih waktu yang terbatas keputusan tersebut harus saya terima.  Padahal sejatinya variabel “tanggapan” sudah saya telisik definisinya menurut para ahli dan bisa menjadi instrument yang baru.

Instrument dalam “tanggapan” saya jabarkan sesuai dengan variabel berikutnya yaitu pembelajaran PJOK berbasis HOTS. Variabel tersebut dijabarkan menjadi kajian teori yang dapat disimpulkan dalam 10 indikator.

Berikut adalah penjelasan teknis mengenai kesimpulan hasil penelitian. Pada Kesimpulan hasil penelitian menunjukkan tanggapan guru terhadap pembelajaran higher order thingking skills se- wilayah Kota Yogyakarta berada pada kategori sangat tinggi sejumlah 0%, tinggi sejumlah 46,6%, sedang sejumlah 53,3%, rendah 0% serta 0% untuk kategori sangat rendah. Namun apabila dijabarkan menurut 10 indikator hasil jabaran dari variabel pembelajaran PJOK berbasis HOTS akan menunjukan pemaknaan lain. Seiring dengan bertambahnya pengalaman dan refleksi dari penulis, temuan angka ini hanya permukaan. Terdapat temuan lain yang lebih mendalam yaitu apabila di interpretasikan melalui keadaan lapangan. Muncul pertanyaan yang beranak pinak, apakah memang keadaan lapangan yang mebuat pembelajaran penjas berbasis HOTS banyak yang tidak di Implementasikan atau memang implementasi pembelajaran HOTS hanya sebatas utopia dalam praktik pemebelajaran Penjas.

Apabila ditinjau dari 10 indikator yang membentuk variabel pembelajaran PJOK berbasis HOTS maka akan ditarik kesimpulan adanya realita berupa pemahaman guru PJOK dengan pelaksanaan pembelajaran PJOK berbasis HOTS. Menurut interpretasi saya seharusnya kedua indikator tersebut selaras. Ketidak selarasan dapat dimaknai bahwa sebenarnya guru PJOK sudah mengetahui banyak tentang HOTS namun ada hambatan yang membuat pelaksanaan pembelajaran PJOK berbasis HOTS tidak maksimal. Seperti halnya sebuah naskah cerita, barangkali narasi ini adalah anti klimak dari sebuah kisah. Selanjutnya kepada pembacalah ending ditentukan.

Rasa penasaran tentu menjadi tenaga dalam menyusun ide penulisan akan tetapi terkadang rasa penasaran terjawab oleh jawaban yang belum sempurna. Termasuk didalam ide penulisan skripsi ini. Kesalahan penafsiran mengenai pembelajaran berbasis HOTS dalam Penjas pada waktu itu belum terkoreksi. Meskipun begitu penulisan skripsi lolos secara penulisan karya tulis etidaknya untuk menghibur diri.Tentu banyak sekali kekakuan dalam menulis skripsi pada waktu itu, namun seiring berjalanya waktu kecenderungan untuk menghidup-hidupi karya tulis tersebut terus berkembang. Baik kecerobohan maupun kekeliruan dari proses belajar semuanya mengandung hikmah. Alangkah bijak bila itu semua menjadi bahan renungan. Bahwa dalam penulisan karya tulis dibutuhkan keluwesan menggunakan berbagai macam alat penelitian. Bahwa dalam menulis dibutuhkan kepekaan melihat berbagai fenomena. Sehingga pada ujungnya proses yang dijalani mendapatkan hasil yang tidak hanya bermanfaat untuk diri sendiri namun juga bermanfaat untuk orang lain. Seperti layaknya mencari dan menemukan mata air, semua yang diusahakan akan lebih berarti jika orang lain turut menikmati hasil.

 

 

Refrensi

Wibowo, Wahyu. 2015. “Menulis Artikel Ilmiah Yang Komunikatif”. Jakarta: Bumi Aksara.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan konvensional mungkin mampu melahirkan ribuan sarjana dan teknokrat, namun ada satu rongga yang tidak akan pernah bisa diisi oleh kurikulum kaku maupun layar digital, apakah itu?

Latar Belakang Berdirinya Taman Siswa

Menziarahi Gunung