Menziarahi Gunung
Kulit bumi merupakan
permukaan yang bergerak tersusun atas lempeng yang saling berpapasan bahkan
bertabrakan menghasilkan bentuk-bentuk permukaan bumi. Kita mengetahui hal
tersebut melalui kenampakan bentang alam. Bentang alam yang paling mudah
diamati adalah gunung. Oleh karena pertemuan lempeng yang berpapasan bahkan
bertabrakan maka munculah energi. Energi tersebut pula terkadang menjadi gempa
terkadang pula menjadi letusan gunung yang memuntahkan isi bumi. Sebelum adanya
teknologi yang begitu canggih untuk memahami gunung dahulu manusia menganggap gunung sebagai pusat
kekuatan. Gunung sangat mempengaruhi pola kehidupan masyarakat disektarnya.
Dibeberapa tempat gunung disakralkan. Gunung Fuji, Taranaki, Ayers Rock dan
Kailash tergolong gunung yang disakralkan oleh penduduk setempat. Pengaruh
perkembangan ilmu pengetahuan menciptakan ruang zaman yang semakin bertumbuh.
Mengungkap hal-hal yang dianggap sakral menjadi rasional, menembus batas-batas manusia dan
menciptakan hal baru.
Beraktivitas
menjelajah gunung pernah pada masanya menjadi perjalanan paling bergengsi.
Gunung yang merupakan bentang alam tempat melepas energi bumi merupakan faktor
pembentuk karakter masyarakat sekitarnya. Selain berburu dan memenuhi kebutuhan utamanya adapula pencarian terhadap
kandungan mineral. Gunung memiliki kandungan mineral seperti emas, perak dan
permata yang dianggap berharga. Pada akhirnya rasa ingin tahu yang terus
berkembang, pengetahuan yang terus bertumbuh serta hasrat ingin menunjukan
kemampuan diri nampaknya menjadi moril penjelajah untuk terus mencari
tempat-tempat baru yang belum pernah dijejaki termasuk menjamah puncak tertinggi.
Gunung dapat
didevinisikan sebagai bentukan permukaan bumi yang tinggi sehingga menyingkap
bebatuan dasarnya. Letak peradaban manusia yang berada disekitar gunung dengan medan
yang sulit membuat beberapa desa hanya sampai dititik tertentu sebelum sampai
di puncaknya. Dapat diamati pula banyak terdapat desa-desa indah yang berada di
lereng-lereng gunung. Didaerah tertentu gunung di sakralkan. Di berapa tempat
gunung menjulang tinggi dengan karakteristik cuaca yang berbeda-beda. Di
belahan bumi lain ada gunung yang sangat aktif sehingga sangat sulit untuk
dijamah. Namun dari kesemuanya itu Cholungma atau Everst merupakan gunung
tertinggi dan paling berbahaya.
Pada mulanya kegiatan
penjelajahan sangat lekat dengan alat-alat yang sederhana. Kini hampir setiap
sudut kesibukan seseorang dijumpai alat-alat pendukung kegiatan yang sekarang
disebut outdoor gear. Perlengkapan yang ber bau outdoor konon lebih kokoh
karena didesain untuk aktivitas ekstrim. Sebagai perbandingan bahwa kegiatan
penjelajahan yang dilakukan dimasalalu sangatlah tradisional dan situasional
menyesuaikan kebutuhan. Jaket yang kini sangat beragam bentuknya, tempat tidur
portable yang sangat ringan, pengaman jalur, pengaman sisip dengan logam-logam
istimewa, tabung oksigen dan kemudahan lain yang berkembang begitu pesat. Penulis
akan mencoba merunut kejadian dengan tahun-tahun sehingga melibatkan manufer
kata-kata yang cukup rumit. Meskipun terlihat rumit, harapanya tulisan ini mampu
memberi sudut pandang baru bagi siapa saja pembacanya.
Kegiatan menjamah puncak
tertinggi dimulai dari kegiatan penjelajahan oleh delegasi tim dari Inggris.
Kegiatan yang melibatkan banyak kemampuan tersebut tidak pernah lepas dari
tragedi begitu pula dengan kisah persahabatan. Tragedi tersebut mengiringi usaha untuk menggapai tujuan umat manusia dalam mewujudkan hipotesisnya
terhadap sesuatu. Termasuk usaha seorang peneliti India George Everest untuk
membuktikan hipotesisnya terhadap titik trigonometri yang ia temukan pada
rentan waktu 1806-1843. Ia menemukan bahwa ada puncak tertinggi di India.
Meskipun pada tahun tersebut ia hanya membuat hipotesis.
Jeda waktu yang lama
yaitu sekitar 110 tahun sebelum akhirnya keberadaan puncak tertinggi ditemukan.
Dalam jeda waktu tersebut berbagai dinamika terjadi. Tidak menorehkan hasil dan
banyak menuai tragedi, meskipun begitu didalam dunia Mountainering classic
kesemuanya itu seakan menjadi kegagalan yang tertunda. Bagi seorang mountaineer
sejati yang telah banyak melewati asam dan garam semua halangan dianggap tangga
untuk mencapai sesuatu yang lebih baik. Dampak nyata dalam diri penggiatnya
adalah rendah diri dan memiliki rasa persaudaraan tinggi.
Melalui ungkapan yang
diutarakan oleh sastrawan Pramoedya Ananta Toer kita akan melihat betapa
kata-kata akan menjadi gema dalam diri pembacanya. Ia mengatakan bahwa
kata-kata memiliki kekuatan yang dahsyat yang mampu menggerakan seseorang
walaupun hanya sebaris pernyataan. Ditambah pula, kata-kata merupakan simpfoni
yang tidak terbatas oleh waktu.
oleh karena tulisanlah penjalanan-perjalanan menantang terkadang dimulai. seperti apa yang telah ditulis oleh Thomas Dent seorang
presiden Alpine Clube yang pernah mengatakan dalam bukunya dengan berjudul “Above the
Snow Line” bahwa ada kemungkinan dataran tinggi yang menjulang itu bisa didaki
(Gunung dengan nama local Cholungma ) 1885. Buku yang ia tulis pun tersirat
didalamnya hipotesis George Everest. Hal
itu yang memunculkan gema dalam diri dan kemudian menjadi peluang seorang John
Noel untuk menjelajahinya.
Sebagai seorang yang
selalu bersinggungan dengan alam barangkali akan menumbuhkan rasa harmoni. Seperti
layaknya orang yang kehidupanya berada dilingkungan perbukitan ia akan selalu
memiliki kesan terhadap lingkungannya itu. Rasa bangga karena telah melewatkan
petualanganya dengan selamat pun turut melekat sebagai bonusnya adalah
penghargaan masyarakat sekitar seeperti apa yang telah John Noel lakukan sebagai kebanggan. John Noel yang merupakan resimen perang dunia I
Saat itu ia bertugas di India. berlatar belakangkan dataran tinggi Tibet,
baginya sangatlah mempesona. Resimen John Noel menghabiskan musim panas di
dekat Himalaya.
Oleh karena ketertarikanya pada pegunungan
yang mempesona itu pada tahun 1913 ia melakukan perjalanan secara
sembunyi-sembunyi menuju dataran Tibet. Meskipun perjalanan dilakukan dengan rahasia tanpa sepengetahuan pemerintah Tibet namun ia menerjang dan mampu menemukan hasil temuan. Pada tahun 1919 ia memaparkan hasil
temuanya yang ia peroleh saat perjalananya mendekati Everest. Termasuk
memberikan kuliah kepada Royal Geograpical Society. John Noel menulis buku yang
berjudul “Through Tibet to Everest”.
Perjalanan secara
rahasia itu dilakukan karena memang pada waktu itu untuk memasuki pedalaman
Tibet sangatlah sulit. Pada tahun 1905 dinasti Qing sangat tertutup terhadap
kehadiran orang asing. Inggris meminta izin untuk mendaki namun ditolak. Inisiatif
John Noel untuk menerabas masuk pedalaman Tibet merupakan instingnya sebagai
seorang resimen . Dalam perjalananya ia tak pernah melewatkan sedikitpun untuk
mencatat apa yang telah ia temui.
John Noel tidak hanya
melakukan penjelajahan namun mencatat berbagai temuanya dan melakukan
perkuliahan terbuka. Karena pemaparanya terhadap temuan-temuan tersebut John
Noel direkrut menjadi anggota Royal Geograpical Society. Dikisahkan
perjalananya mendekati Everest tidaklah mudah. Dataran Tibet saat itu dipimpin
oleh dinasti Qing tertutup oleh orang luar. Beberapa kali meminta izin untuk
memasuki wilayah tersebut namun ditolak. Sehingga jalan khas mata-mata
dilakukan oleh John Noel. Alhasil meskipun tidak sampai Everest John noel
mendapat banyak informasi tentang dataran tersebut dengan mempelajari adat
istiadat setempat dan mempelajari beberapa kosakata Tibet, termasuk mampu
mendekati pedalaman Tibet hingga 96 km sebelum Everst. Royal
Geograpical Society kemudian mempercayai dan memberi saran John Noel untuk
melakukan ekspedisi yang kedua untuk menembus Tibet dengan jalur yang pernah ia
rintis sendiri. Pada waktu itu izin sudah dikantongi oleh tim Royal Geograpical
Society.
Sebuah ekspedisi
selalu identik dengan orisinalitas, merintis dan melanjutkan estafet yang
pernah dilakukan. Terkadang gagal adalah konsekuensi yang sering diterima oleh
para petualang ketika melakukan ekspedisi. Namun sikap yang ditunjukan para
penjelajah pada waktu itu adalah sikap positif dalam menanggapi kegagalan.
Kegagalan dalam ekspedisi dianggap sebagai hasil yang tidak perlu
ditutup-tutupi bahkan perlu sekali untuk di publikasikan
Perlu diketahui bahwa mentalitas seorang Penjelajah khas Barat sangatlah nampak bila melihat jejak sejarahnya. Selain penjelajah, dapat pula disebut sebagai tim peneliti khusnya dalam perkembangan dunia pendakian. John Noel dalam perjalananya berusaha memberi manfaat dengan memaparkan hasil temuanya. Dampak yang muncul dari pemaparan John Noel tentang perjalananya menembus Tibet yaitu munculnya para delegator penakhluk puncak tertinggi yang pernah di hipotesiskan oleh George Everest. sehingga pada tahun 1921 sebuah lembaga yang menjadi penopang ekspedisi yaitu Royal Geograpical Society mendelegasikan beberapa orang untuk melaksanakan misinya. dengan saran dari John noel kepada Royal Geograpical Society untuk didelegasikanya Carles Howard Bury sebagai leader dalam menapaki kembali jejak John Noel. Tim penjelajah selalu terdiri atas leader dan anggota atau tim. Setelah dipilih leader, Royal Geograpical Society kemudian merekrut pendaki terbaik salah satunya adalah George Mallory.
Dikisahkan Perjalanan
perlanjutan proses menuju Everest dalam ekspedisi pertama dilakukan untuk hanya
untuk mengeksplorasi jalur menuju puncak. Eksplorasi jalur tersebut pada akhirnya
hanya sampai di ketinggian 7000 m karena keadaan medan yang tidak
memungkinkan. Perjalanan menuju ketinggian 7000 m hanya sampai pada sebuah
lembahan es yang diberi istilah “The Nort Col”.
Pada tahun 1922
ekspedisi ke dua setelah perjuangan Carles Howard Bury kemudian dilanjutkan oleh
Bruce Finch. Pada bulan Mei tanggal 24 melalui rute North
Col, Mallory, Geoffrey Bruce, Tejbir, Kapten Noel dan 12 porter
kembali melanjutkan perjuangan yang dilakukan pada ekspedisi pertama. Ekspedisi
yang kedua tersebut hanya bisa mengantarkan Bruce Finch dan Carles Howard Bury ke titik 8320 m. Perjalanan dilakuan dengan menggunakan jalur yang
sama saat ekspedisi pertama bahkan kembali melintasi North Col. Setelah
terlewatinya badai salju di camp North Col barulah perjalanan bisa kembali
dilakukan. Dalam ekspedisi kedua ini tercatat dilakukan dengan menggunakan
bantuan tabung oksigen sebagai suplai oksigen tambahan. Bruce Finch percaya
bahwa meggunakan tabung oksigen adalah satu-satunya cara untuk bertahan di
ketinggian. Selain dapat menambah performa perjalanan secara mendetile tabung
oksigen dapat digunakan untuk menambah kualitas istirahat. Hasil rancangan
Finch sebagai seorang berlatar belakang ilmuan kimia menjadi peralatan wajib
yang terus dikembangkan sampai sekarang.
Setidaknya meskipun tidak mencapai puncak, temuan dari Finch dalam
manajemen perjalanan berupa tabung oksigen menjadi terobosan baru untuk
ekspedisi berikutnya yaitu ekspedisi ke tiga. Pada ekspedisi ke tiga, yaitu
tahun 1924 dipimpin oleh Edward Norton. Di tahun inilah Irvin dan Mallory gagal
dan membumi. Sejak saat itu jenazah Irvin dan Mallory belum ditemukan. Perlu
diketahui bahwa dua pendaki tersebut merupakan pelopor pendaki modern. Selain
menjadi pelopor pendakian modern Mallory pada akhirnya akan menguak banyak
temuan dalam sejarah pendakian gunung Everest hingga pada kesekian periode jenazah dan temuanya baru ditemukan.
Setelah ekspedisi yang ke tiga, daerah Tibet dan Nepal ditutup dari
orang asing. Hampir 9 tahun berlalu pada akhirnya Inggris kembali memperoleh
izin untuk kembali melakukan ekspedisi. Terhitung ekspedisi inggris kali itu
adalah yang ke empat. Ekspedisi yang ke empat dipimpin oleh Hugh Ruttledge
dengan tim. Begitu pula dengan ekspedisi ke empat, ekspedisi itu tetap berakhir
dengan kegagalan bahkan belum bisa mengungguli ekspedisi ke tiga yang dilakukan
oleh Irvine dan Mallory yaitu pada ketinggian 8534 m. begitu pula dengan
ekspedisi berikutnya sampai dengan ekspedisi yang ke 7 yaitu ditutupnya Nepal
dan Tibet karena perang dunia ke dua. Gunung dengnan nama Everest tersebut
akhirnya menutup diri dari jamahan manusia.
Terhitung sejak ekspedisinya yang pertama yaitu tahun 1921 Everest telah
menjadi kuburan bagi ratusan pendaki. Orang tahu bahwa mendaki Everest
merupakan usaha gila. Bertahun-tahun ekspedisi hanya bisa menambah ketinggian
kurang lebih 1534 m atau 1,5 km. Jarak tersebut tentulah jarak yang sangat
dekat apabila dikonversikan secara horizontal. Hanya orang yang memiliki
keberanian dan kemampuan yang mumpuni yang dapat melampiaskan keinginannya
untuk mendaki gunung tersebut. Namun pada titik tersebut sebuah kenyataan yang sulit
untuk diketahu adalah mengapa mereka tetap berlanjut untuk melakukan kegilaan
tersebut. Pada sesi konversi pers selepas melakukan pendakianya semasa masih
hidup Mallory menjawab pertanyaan wartawan mengenai minatnya untuk mendaki.
Mengapa Mallory mendaki Everest?jawabnya adalah “karena gunung itu ada di sana”.
Meskipun kegilaan tersebut selalu berujung pada petaka namun tetap saja hasrat
untuk menginjakan kaki dipuncak tertinggi tersebut masih bermunculan. Proses
estavet perlanjutan menuju titik tertinggi dilanjut kembali oleh tim pendaki dari
Swiss pada tahun 1952. Hingga pada akhirnya ekspedisi yang dilakukan oleh tim
dari Swiss hanya dapat mengantar Lambert dan Tenzing di ketinggian 8550 m.
Selepas kegagalan tim ekspedisi Swiss, Inggris bergegas kembali
menyiapkan tim untuk melakukan ekspedisinya yang ke sebelas. Tim inggris yang
terdiri dari beberapa pendaki termasuk Edmund Hillary dan Tenzing Norgey. Pendakian
tersebut dipimpin oleh kolonel John Hunt dan dilakukan pada 9 April 1953. Dalam
pendakian dibantu oleh 10 pendaki professional ditambah 5 orang Serpha dan 39 porter
atau pengangkut. 5 orang Serpha tersebut termasuk didalamnya Tenzing Norgey. Badai
yang terus berderu sepanjang perjalanan hingga pada 29 Mei Hillary dan Tenzing menginjakan
kaki dipuncak tertinggi dari Everest.
Selepas ekspedisi yang ke 11 yang dilakukan oleh tim ekspedisi Inggris
maka dengan itu terbuktilah hipotesis dari seorang peneliti George Everest. Untuk
mengenang jasa dari George Everest maka puncak Everest diberi nama Everest
hingga sampai saat ini.
Terlepas dari dinamika proses penakhlukan puncak gunung Everst sejatinya
banyak sekali nilai yang dapat dipetik. Termasuk kisah bertemunya Tenzing Norgey
dengan Hillary. Jika ditilik dari sejarahnya Tenzing merupakan pendaki
sekaligus Serpha pertama yang menjejaki kaki di puncak tertinggi Everest. Sejatinya
bisa saja Tenzing Norgey menjadi orang pertama yang sampai di puncak Everest
namun dengan sikapnya yang begitu rendah hati mempersilahkan Edmund Hillary
untuk lebih dahulu menggapai puncak Everest. Dengan demikian dapat dikatakan
Tenzing Norgey adalah orang pertama yang mencapai puncak Everest karena
kerendahan hatinya. Hal tersebut diperlihatkan melalui dialog yang dilakukan
saat sesi wawancara dengan wartawan selepas pendakianya. Dialog tersebut kurang
lebih menyatakan jawaban Tenzing Norgey mengenai pertanyaan wartawan yang
sedikit berbeda. Pada sesi wawancara wartawan tersebut bertanya mengenai alasan
mengapa Tenzing Norgey mempersilahkan Hillary untuk sampai di puncak Everest
padaha kemampuan untuk meraih puncak lebih dahulu ada padanya.
“ menjadi orang pertama yang menakhukan Everest adalah impian
Hillary, bukan impian saya. Saya adalah pemandu, impian saya adalah berhasil
mengantar Hillary mewujudkan impianya.”
“hanya karena pekerjaan dan pengormbanan mereka,
kami memiliki kesempatan untuk mencapai puncak. Itulah hukum gunung”
Di akhir cerita Hillary tetap bersahabat dengan Norgey bahkan dirinya
memusatkan perhatian untuk merubah kondisi hidup penduduk Nepal termasuk Serpha.
Hingga mereka memiliki cicit, kisah persahabatan tersebut masih bergema. Sejatinya
segala proses yang telah kita lakukan adalah tak lepas dari pengorbanan pendahulu
kita. Tak semestinya hanya sebatas menyebut diri sebagai pemenang. Selain
sebagai aktivitas yang merintis, ekspedisi ke sebelas yang dilakukan oleh
Hillary dan Norgey pada akhirnya menjadi batu loncatan bagi tim ekspedisi
selanjutnya yang terus menciptakan inovasi dalam dunia petualang. Termasuk
didalamnya adalah kisah persaudaraan yang perlu dicontoh.
Gunung Everest masih menjadi pusat perhatian para petualang tangguh. Bagi
penulis usaha untuk menakhlukan gunung adalah hal yang perlu diluruskan secara kata
karena sangat berpengaruh terhadap kerendahan diri dalam menjalankan
kehidupan sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Bagi penulis istilah menakhlukan gunung
adalah mengenal sejarah dan pengetahuan dasarnya, mempelajari teknik pendakian serta melakukan aktivitas pendakian.
Usaha untuk menakhlukan gunung seperti halnya Ziarah Gunung.
***
Store Ahyar. 2020. Pecinta Alam Adalah Karakter.
Yogyakarta. SARMI & Anom Pustaka.
https://en.wikipedia.org/wiki/Edmund_Hillary. Diakses 3 / 2 / 2023.
Komentar
Posting Komentar