Pemahaman Tentang Aktivitas Luar Ruangan
Pemahaman Tentang Aktivitas Luar
Ruangan Yang Aman Untuk Peserta Didik Pada Pembelajaran Penjas
Basit Faqihul
Ahkam, S.Pd.
Pendidikan Jamani, Universitas Negeri
Semarang faqihbasit86@gmail.com
Abstrak
Aktivitas
pendidikan jasmani merupakan salah satu dari beberapa matapelajaran di sekolah
yang harus ada dan dikembangkan sesuai dengan kapasitas sekolah maupun guru
pendidikan jasmani. Guru perlu mengembangkan kegiatan pembelajaranya sehinga
dapat meningkatkan karakter siswa. Menguatkan karakter siswa merupakan salah
satu tujuan dalam setiap kegiatan pembelajaran di sekolah. Karakter siswa yang baik akan berdampak pada
kemampuan kognitif siswa sehingga tercapai keseimbangan dalam diri siswa. Beberapa
manfaat dari meninkatnya karakter baik siswa adalah terciptanya generasi yang
tidak hanya baik secara intelektual namun juga baik secara emosional. Kemampuan
kecerdasan intelektual yang tinggi tanpa diimbangi dengan kecerdasan emosional
yang baik akan memberi dampak buruk baik bagi diri sendiri maupun orang lain.
Keseimbangan IQ dan IE sudah menjadi rahasia umum dapat ditingkatkan melalui
aktivitas luar ruangan. Baik sekolahan maupun guru berusaha menerapkan kegiatan
luar ruangan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran siswa. Dibeberapa kasus
kegiatan luar ruangan dimaknai keliru sehingga penyelenggaraanya terlalu
melenceng dari tujuan utamanya. Kekeliruan konsep aktivitas ruangan untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran justru berdampak negatif terhadap
keselamatan siswa. Beberapa kasus kegagalan sekolah atau guru dalam memahami
konsep aktivitas luar ruangan telah terjadi di tiga tahun terakhir ini dan
berdampak terhadap keselamatan siswa. Experienctial Learning merupakan
merupakan rujukan yang relevan untuk aktivitas luar ruangan yang aman untuk
peserta didik pada pembelajaran penjas.
Kata
kunci : Kecerdasan emosiona, Experienctial
Learning dan keselamatan siswa
1.
Pendahuluan
Aktivitas
outdoor atau aktivitas luar ruangan merupakan kegiatan yang sudah
terbukti mampu menguatkan karakter siswa. Karakter baik berupa kerjasama,
komunikatif, mandiri dan bertanggung jawab dapat dibangun melalui aktivitas
luar ruangan. Sejalan dengan itu dibanyak sekolah, guru pendidikan jasmani
sering menjadi penggerak dalam aktivitas tersebut. Dalam pendidikan jasmani
individu berpartisipasi dalam olahraga untuk meningkatkan kebugaran, kemampuan
sosial dan karakter. Atas dasar tujuan pendidikan jasmani tersebut guru
olahraga menjadi penggerak dalam aktivitas luar ruangan.
Secara
praktik pendidikan jasmani memegang peran penting dalam mengembangkan konsep
aktivitas luar ruangan. Di beberapa negara maju aktivitas luar ruangan sudah
sangat familier diterapkan pada kurikulum sekolah. Beberapa penelitian
menunjukan peningkatan signifikan terhadap peserta didik yang melakukan
aktivitas luar ruangan. Wang dan Liu (2006) telah melakukan penelitian terkait
aktivitas luar ruangan pada siswa perempuan dan menyimpulkan bahwa aktivitas
luar ruangan dapat meningkatkan kapasitas sosial, kapasitas interpersonal dan self-esteem.
Tujuan
umum dari program aktivitas luar ruangan adalah meningkatkan kemampuan personal
dan pengembangan sosial para pesertanya .Beberapa program aktivitas luar
ruangan juga dapat menemukan hasil spesifik, seperti masalah-masalah manajemen
perilaku atau meningkatkan penampilan akademik. (Neil, 2001). Melalui aktivitas luar ruangan sisiwa dapat
menunjukan totalitas dalam berekspresi sehingga tugas guru untuk menemukan
potensi-potensi siswa dapat terakomodir. Sejalan dengan itu siswa dapat
merasakan langsung makna dari aktivitas yang sedang dilakukan sehingga baik
siswa maupun guru dapat memaksimalkan tugasnya.
Kendati
demikian aktivitas luar ruangan merupakan terminologi yang masih umum. Sehingga
perlu di khususkan kembali. Merujuk pada pendapat Borgman (2002) beberapa
aktivitas pendidikan lingkungan, rekreasi dan petualangan merupakan bagian dari
terminologi aktivitas yang dilakukan di tempat terbuka. Sehingga secara
spesifik terminologi dari aktivitas luar ruangan yang dimaksud merupakan
aktivitas luar ruangan yang disesuaikan dengan pembelajaran penjas. Walaupun
penjabaranya luas sejatinya pembelajaran Penjas sudah dapat disebut aktivitas
luar ruangan.
Didalam
Penjas beberapa olahraga dan permainan digunakan sebagai materi dalam pembelajaran.
Aktivitas pembelajaran penjas bukan semata menitik beratkan pada aktivitas
olahraga atau permainan saja akan tetapi meliputi tiga domain yaitu
psikomotorik, kognitif dan avektif. Melalui gerak siswa menggali potensi
kognitiv dan avektifnya. Berbagai metode dapat digunakan untuk membangun
pengalaman belajar baik itu melalui pembelajaran yang dilakukan didalam kelas
maupun diluar kelas. Baik itu melalui aktivitas intrakurikuler atau kokurikuler
bahkan ekstrakurikuler.
Dalam
kurun waktu 3 tahun kebelakang telah terjadi beberapa tragedi yang mirisnya
melibatkan instansi sekolah sebagai penyelenggara kegiatan aktivitas luar
ruangan. Tragedi tersebut antara lain meninggalnya 10 orang siswa SMP
Negeri 1 Turi tewas pada saat melakukan kegiatan susur sungai Sempor,
Meninggalnya 4 orang siswa SMP IT Al-hikmah Depok karena hanyut di sekitar
Curug Kembar pada kegiatan Latihan dasar kepemimpinan dan beberapa tragedi yang
menyebabkan kecelakaan saat berkegiatan di luar ruangan. Rendahnya pemahaman
guru dalam mengimplementasikan konsep aktivitas luar ruangan menjadi salah satu
penyebab terjadinya tragedi yang membahayakan keselamatan siswa.
2.
Pembahasan
Pembelajaran penjas
Perkembangan dan pembentukan karakter
seseorang dipengaruhi oleh lingkungan dan interaksinya. Pembentukan karakter
seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh lingkungan alami akan tetapi bisa
dibentuk melalui lingkungan yang telah direkayasa. Salah satu aktivitas yang
bisa dilakukan untuk membentuk dan mengembangkan karakter adalah aktivitas
olahraga dan permainan. Melalui aktivitas olahraga dan permainan yang telah
disesuaikan dengan kapasitas peserta didik karakter dapat ditingkatkan. (Weinberg dan Gould, 2003).
Pendidikan
jasmani merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari sistem pendidikan di
Indonesia. Melalui pendidikan jasmani domain kognitiv, psikomotorik dan afektif
dapat di kembangkan secara bersamaan. Domain tersebut dapat dikembangkan
melalui aktivitas jasmani dalam bentuk permainan yang dilakukan di alam bebas
atau luar ruangan. Melalui aktivitas luar ruangan lingkungan alam dapat
mempengaruhi perilaku individu sehingga harapanya dapat membentuk pesertadidik
yang berkarakter. (Hackett et al., 2020).
Aktivitas luar ruangan
merupakan solusi dalam mengembangkan pembelajaran jasmani yang dapat mengurangi
kejenuhan didalam ruangan. Menurut Depdiknas (2006) aktivitas luar ruangan yang
di isi dengan permainan dapat meningkatkan domain kognitif, psikomotorik dan
afektif. Pada praktiknya harus disesuaikan dengan kemampuan, gender dan kondisi
kesehatan siswa. Menurut Ma’mun, Nugraha, Hakama, & J (2018) aktivitas luar
ruangan dengan permainan harus disesuaikan dengan gender siswa sehingga lebih
maksimal dalam memberikan manfaat.
Aktivitas
luar ruangan
Aktivitas luar ruangan atau outdoor
activity merupakan kegiatan luar ruangan. Kegiatan luar ruangan yang dilakukan
di lingkup sekolah berarti aktivitas luar ruangan untuk pendidikan atau lebih
tepat dapat dikatakan outdoor games activity. Bermain akan melibatkan secara
langsung peserta didik dalam aktivitas belajar. Dampak yang ditimbulkan dari
belajar dengan melibatkan secara langsung peserta didik dalam objek belajarnya
akan memudahkan dalam menyerap pengetahuan baru.
Kejenuhan merupakan penyebab pembelajaran
penjas menjadi kurang efektif. Beberapa solusi untuk mengatasi kejenuhan dalam
pembelajaran penjas salah satunya adalah dengan menggunakan aktivitas outdoor
sebagai pengembangan dari pembelajaran reguler atau dalam ruangan. Pembelajaran
reguler atau dalam ruangan berarti pembelajaran yang dilakukan dilingkup
Intrakurikuler. Aktifitas Intrakurikuler yang seyogyanya dilakuan di dalam
ruangan atau lingkungan sekolah seringkali menjadi jenuh sehingga salah satu
solusinya yaitu dengan kegiatan outbound.
Menurut Suparlan (2008) kegiatan yang
dilakukan diluar kelas secara dapat disebut sebagai kegiatan Outbound. Didalam
kegiatan Outbound kegiatan dirancang semenarik mungkin dan menyenangkan karena
didalamnya dapat meningkatkan domain kognitiv, psikomotorik dan avektif. Outbound
merupakan aktivitas yang bisa dilakukan diluar ruangan atau di alam terbuka.
Kegiatan
Outbound merupakan kegiatan yang dilakukan di luar ruangan yang dilakukan oleh
banyak peserta dan dilakukan diluar ruangan atau di alam. Pada dasarnya
aktivitas yang dilakukan di luar ruangan dan melibatkan banyak peserta harus
selalu mempertimbangan keselamatan. Keselamatan dalam setiap kegiatan luar
ruangan harus selalu di utamakan.
Konsep
Outdoor Game
Aktivitas Outdoor Game berupa Outbound dapat meningkatkan
kualitas kematangan emosional dan spiritual pada siswa. Aktivitas outbound bisa
dilakukan dengan menggunakan pendekatan sirkuit. Yaitu berupa rangkaian kegiatan
dalam suatu area permainan. Aktivitas outbound memiliki paradigma yaitu alam
digunakan sebagai media pembelajaran. Hal ini senada dengan argumen Ancok (
2006) yang menyatakan bahwa aktivitas outbound merupakan strategi belajar yang
dilakukan di area alam terbuka guna memberi kontribusi terhadap kesuksesan
belajar.
Kegiatan Outbound berisikan dengan kegiatan
permainan dan petualangan. Beberapa rekomendasi kegiatan outbound yang relevan
untuk siswa menurut Hendra Setyawan yaitu :
1.
Permainan
perang terbuka
2.
Permainan
pesan berantai
3.
Permainan
gelas bocor
Landasan
aktivitas luar ruangan yang aman
Merujuk pada undang-undang Sistem
keolahragaan nasional nomor 3 tahun 2005 pasal 5 yang menyatakan salah satu
prinsip penyelenggaraan olahraga adalaah keselamatan pelaku olahraga.
Keselamatan dalam aktivitas olahraga merupakan hal logis yang perlu di utamakan
karena merupakan hal yang esensi dalam seluruh aktivitas manusia. Aktivitas
luar ruangan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan oleh pendidikan
jasmani. Oleh karena itu penyelenggaraan aktivitas pendidikan jasmani yang selalu melibatkan banyak peserta didik
harus lebih memperhatikan unsur keselamatan.
Selain
undang-undang di atas, Badan Standar Nasional Pendidikan juga membuat klausal
untuk selalu memperhatikan keselamatan dalam penyelenggaraan olahraga. Menurut
Melograno (1996:46) faktor keselamatan dalam berolahraga sangatlah penting
karena aktivitas olahraga memiliki resiko yang kompleks. Lebih esensi lagi
penyelenggara pendidikan selain harus memiliki kemampuan untuk menangani cidera
namun harus menjamin keselamatan peserta didik agar dapat berpartisipasi dalam
olahraga secara berkelanjutan seumurhidupnya.
Aktivitas luar ruangan merupakan bagian
dari pendidikan jasmani yang tidak dapat dipisahkan. Berbagai aktivitas yang
dilakukan pada pendidikan jasmani sangatlah banyak variasinya. Variasi yang
dilakukan harus selalu mempertimbangkan faktor keselamatan.
Keselamatan dalam beraktivitas di sebuah
kegiatan dibawah naungan isntitusi dapat di capai melalui sikap sadar akan
bahaya dan resiko. Konsep K3 tentang tujuan keselamatan dan kesehatan kerja
yaitu mengurangi resiko kecelakaan dapat diadaptasi pada aktivita luar ruangan
dalam pembelajaran penjas. Keselamatan dalam aktivitas luar ruangan jika
ditinjau dari konsep K3 yitu meminimalkan atau menihilkan resiko kecelakaan.
Menurut Sutrisno (2010:13) tujuan keselamatan dan kesehatan kerja adalah: 1)
Mencegah kerugian 2) Menjaga sarana dan prasarana. 10 3) Meningkatkan
kesejahteraan rohani dan jasmani. 4) Untuk aktivitas yang berkesinambungan. 5)
Mengurangi biaya asuransi kesehatan.
Konsep
aktivitas luar ruangan yang di desain untuk pembelajaran pendidikan jasmani
harus mengacu pada adaptasi dari konsep K3 yaitu menihilkan atau meminimalkan
resiko. Aktivitas luar ruangan harus di rancang dengan baik. Perancangan
aktivitas mempertimbangkan:
1. Konsep kegiatan
Kegiatan disusun atas landasan yang kuat
berkaitan dengan tujuan yang hendak dicapai. Landasan tersebut bisa mengacu
pada kurikulum yang berlaku di sekolah maupun tujuan pendidikan yang dapat di
operasionalkan secara logis dalam kegiatan. Termasuk
melibatkan pihak luar yang lebih professional untuk berkerjasama
2. Rencana kegiatan
Penyusunan rencana
mengikuti konsep yang telah disusun terlebih dahulu. Rencana yang matang akan
berdampak pada keberhasilan kegiatan yang akan dilakukan. Rencana kegiatan
terdiri atas penyusunan abstraksi kegiatan sehingga muncul berbagai alokasi
kebutuhan untuk mencapai tujuan . Beberapa alokasi kebutuhan antara lain :
penentuan tujuan, kepanitiaan, anggaran, rundown dan teknis kegiatan.
3. Rundown dan Teknis pelaksanaan kegiatan
Merupakan
penjabaran secara spesifik terhadap rencana kegiatan. Termasuk didalamnya
adalah pembagian waktu, tugas dan tanggungjawap pelaksanaan kegiatan. Rundown
dan teknis pelaksanaan kegiatan harus disusun sebelum pelaksanaan kegiatan
karena merepresentasikan berbagai upaya untuk mempersiapkan kebutuhan, alur dan
berbagai rencana alternatif. Seringkali waktu dan kesempatan yang dibatasi
menjadi dalih untuk mempersiapkan rundown dan teknis pelaksanaan kegiatan.
Padahal dari titik acuan inilah kegiatan dapat ditinjau kesiapanya.
4. Evaluasi kegiatan
Untuk mendapatkan
feedback yang menyeluruh maka kegiatan tidak hanya dilakukan saja akan tetapi
perlu di monitoring serta di evaluasi. Evaluasi dilakukan baik kegiatan
berjalan lancar maupun terkendala. Seluruh hasil evaluasi akan menumbuhkan
pengetahuan yang baik terhadap pelaksanaan kegiatan mendatang.
3.
Kesimpulam
dan Saran
Proses penyusunan kegiatan luar ruangan
perlu mempertimbangkan hubungan yang realistik dengan kebutuhan belajar siswa. Kegiatan
luar ruangan yang dilakukan institusi sekolah harus dilakukan dengan
perencanaan yang matang dan mengikuti prosedur yang ketat karena berkaitan
dengan keselamatan baik peserta maupun penyelenggara kegiatan.Untuk mencapai tujuan
yang diharapkan penyelenggara perlu dengan penuh kesadaran merencanakan
kegiatan dengan baik. Beberapa alternativ kegiatan luar ruangan bisa menjadi
rujukan untuk mengembangkan sebuah kegiatan luar ruangan yang relevan dan aman.
Daftar
Pustaka
Setyawan, H. (2020).”Pengembangan Model
Outdoor Games Activities Pada Pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan
Kesehatan Sekolah Menengah Atas”. Majalah Ilmiah Olahraga, Vol 26 (2), 2020,
45-55.
Wang, C.K.J., Liu, W.C., dan Kahlid, A,. (2006).
Effects of a Five-Day Outward Bound Course on Female Students in Singapore.
Australian Journal
of Outdoor Education, Volume 10 (2), 20-28.
Neill, J. (2001). "A Profile of
Outdoor Education Programs and Their Implementation in
Australia." World Convention Center, Miyazaki, Japan.
Borgman, M. (2002). Social Integration Through
Integrated Adventure Programming. New Zealand Journal
of Outdoor Education.
Vol I. No.1
Hackett, K. A., Ziegler, M. C., Olson, J. A., Bizub, J., Stolley,
M., Szabo, A., … Beyer, K. M. M. (2020). Nature Mentors: A Program To Encourage
Outdoor Activity And Nature Engagement Among Urban Youth And Families. Journal
of Adventure Education and Outdoor Learning, 00(00), 1–18. https://doi.org/10.1080/14729679.2020.1730
203
Ma’mun, A., Nugraha, E., Hakama, A., & J, J. (2018). The
Influence of Outdoor Education and Gender on the Development of Social Values. Jurnal
Pendidikan Jasmani Dan Olahraga, 3(1),
10.https://doi.org/10.17509/jpjo.v3i1.10461
Suparlan. (2008). Membangun sekolah efektif.
Yogyakarta: Hikayat
Undang-Undang
Sistem Keolahragaan Nasional: UU RI No. 3 Tahun 2005. Jakarta: Sinar Grafika.
Komentar
Posting Komentar